Indonesia Membangun #KKN-JOURNAY

“Bumi, Air dan Kekayaan Alam yang terkandung didalamnya adalah milik Negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk bangsa”-Pasal 33 (3) UUDN 1945

“Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”

Begitulah salah satu bunyi pernyataan atau deklarasi hukum bahwa Negara Indonesia adalah Negara kaya akan kandungan Bumi. Penyataan yang hebat, luar biasa, memukau dan sangat merakyat sekali. Penyataan ini pula mengandung makna bahwa negara melindungi kekayaannya untuk kemakmuran rakyatnya. Namun, siapa sangka pernyataan ini (baca :Pasal 33(3) ) menjadi alat promisi, kampanye, pencitraan dan el el bagi para pejabat, politisi, akademisi, maupun praktisi. Siapa yang bicara pasal 33(3) seakan-akan benar sendiri, kenyataannya mereka sendiri yang melanggar, bahkan mengkhianati komitmen negara ini.

        

Sebelum pembahasan lebih jauh, saya ingin mengambil screenshot penyataan Menko Perekonomian Ir. Hatta Radjasa dalam pidatonya pada Pemberangkatan KKN-PPM UGM Tahun 2012 di Gedung Grha Sabha Pramana UGM. Hatta Radjasa ini wong kito galo, putra daerah Sumatera Selatan, sama dengan penulis… (pamerr tapi gak berefek..hehe). Ohya jadi lupa mau menjelaskan pernyataannya, jadi begini Pak Hatta mengatakan bahwa “Indonesia pada 2025 harus menjadi salah satu Negara 10 kekuatan Ekonomi Dunia” (wawww…dahsyat dan luar biasa kan..) tunggu dulu… Ada lagi yang di sampaikan pak Hatta yaitu “ pada tahun 2025 kemiskinan di Indonesia harus <8% dan Program MDGs 2015 akan segera selesai…”

Mantap nian wong kito galo ni…..

Mari kita analisis pernyataan tersebut dengan fakta yang saya alami di lapangan setelah menjalani KKN-PPM. Menurut saya tidak berlebihan jika Sang Menko Perekonomian Indonesia mempunyai cita-cita seperti itu. Artinya saya menghargai dan bangga karena ada juga pejabat Negara kita yang Visioner, dan berpikir kedepan.

Bisa dibayangkan jika Indonesia menjadi 10 kekuatan ekonomi Dunia artinya Indonesia pada 2025 menjadi Negara Maju, dan sebanding dengan Negara-negara penguasa dunia seperti Amerika Serikat, Cina, Jepang dll. (ni sikap optimisnya lho…) namun yang menjadi pertanyaan apa sebenarnya kriteria menjadi Negara maju, apa dengan pendapatan >5000U$, atau dengan menurunkan angka kemiskinan.  Jika dilihat sekarang, dimana-mana fasilitas masih kurang, bahkan miris, untuk hal kecil saja, misalkan infrastruktur sekolah di daerah (parameternya daerah se-Indonesia lho, bukan jekarrrdah, hehe), fasilitas pendidikan minim, perpustakaan tidak ada, Internet pun belum masuk. Bahkan fasilitas yang penting yaitu kehadiran buku bagi pelajar, buku sangat minim di sekolah-sekolah sehingga sangat menyulitkan bagi daerah untuk berkembang. Akarnya yaitu tidak sampainya dana pendidikan ke daerah, atau bahkan dikorupsi oleh pejabat pendidikan. Waduh jangan su’udzan berkepanjangan deh..hehe

 

Untuk aspek pendidikan, PBB melalui UNDP melihat aspek pendidikan sebagai kriteria dalam Negara maju, yaitu dengan ukuran Tingkat Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek). Kelemahan SDM Indonesia menjadi permasalahan dalam mewujudkan kesejahteraan bangsa, namun bukanlah penghalang untuk memajukan bangsa Indonesia. Penguasaan Iptek bagi SDM Indonesia adalah kewajiban dan sangat wajib, karena SDM yang baik dan handal akan membantu Negara mengurangi kemiskinan. Penduduk Indonesia sekarang hanya 8% dari jumlah seluruh penduduk yang mengecam pendidikan tinggi (baca: kuliah), padahal untuk kriteria UNDP bahwa Negara maju harus memiliki minimal 20% penduduknya kuliaahh alias berpendidikan tinggi, dengan alas an itu Indonesia terus menggenjot target pendidikan pada level 20% hingga 2025, akankah terwujud??? (Mari kita dukung saja…kalau salah arah kita ingatkan pemerintah ! baca :aksi)  wajar saja jika saya sering melihat, usia anak kuliahan sekarang muda-muda banget, masih imut imut deh #lebay, akibatnya sediikit sedikit ngambek, alias masih labil mahasisw-mahasiswinya…(waduh kayak udah merasa tua aja ni..)

Actually, saya ingin mengatakan bahwa Indonesia butuh dukungan masyarakatnya untuk mewujudkan itu semua, salah satu dukungan yaitu melalui program KKN-PPM UGM. Pada saat saya KKN-PPM melalui kerjasama program BKKBN yaitu bertema peningkatan pendapatan kelompok UPPKS (Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera). Kebetulan saya mendapat lokasi Di Kecamatan Ponjong, Kab. Gunung Kidul (South Mountain ^^) D.I.Y, sebagai info, bahwa Kab.Gunung Kidul merupakan kabupaten yang memiliki pendapatan (PAD) terendah di Propinsi D.I.Y, untuk tertinggi masih dipegang SLEMANNN :D. Pada hari ke -6 saya diajak oleh mengisi (baca: jadi pembicara) Penyuluhan di Desa Tambah Romo, Ponjong, saya senang sekali dengan ajakan tersebut, setidaknya saya akan menularkan ilmu saya kepada warga Tambak Romo. Tiba saatnya untuk perjalanan ke Tambak Romo dengan starting point di Kantor Camat Ponjong. Dalam perjalanan saya kaget, ternyata Tambak Romo tidak seperti yang saya bayangkan, untuk mencapai daerahnya, harus menaiki tanjankan (baca: jalan berbukit ) dengan kemiringan hingga 45 dejarat. Bahkan tanjakan tajam berkali kali menemui perjalanan tersebut. Sesampai disana, saya sangat was was apakah ada warga yang datang, wah ternyata warganya semangat sekali..hmm saya ingin pada intinya deh “ Intinya warga Tambak Romo agak pesimistis untuk maju, karena secara geografis daerahnya di kepung oleh bukit-bukit tinggi, yaa namanya juga Gunung Kidul, sehingga aksestabilitas daerahnya tidak begitu kinclong…Bahkan pendidikan mereka hanya ada sebatas SMP,SMA jauh nan disana (#lebay) jadi setelah tamat SMP rata-rata dari penduduk disana tidak melanjutnya ke SMA, bahkan rata-rata dari penduduk disana sulit membaca, intinya iptek sangat jauh dari kehidupan mereka…(maka jika flashback ke cita-cita Indonesia 2025 untuk pendidikan tadi, yaitu 20% harus Kuliah, maka kita harus bekerjaaa lebih keraassss), I believe my country will overcome this problems… continued….


29. July 2012 by dewa09
Categories: Uncategorized | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *