BERSATU MEROBOHKAN ANTEK-ANTEK MAFIA

Terbit di Okezone

Oleh : Dewa Mahendra

( Mahasiswa Fakultas Hukum Univesitas Gadjah Mada )

Sudah beberapa kali Gayus menerobos hukum dengan aksi mafianya. Beberapa koran cetak maupun media online terus melansir berita yang mengejutkan yaitu terakhir kali ketika ada penonton yang mirip Gayus pada pertandingan Tenis Commonwealth di Bali. Pemberitaan yang cukup gencar ini mudah-mudahan berdampak positif dan menduplikasikan niat shock therapy kepada masyarakat luas untuk bersama-sama menyuarakan suara dan tindakan untuk memerangi pratek mafia peradilan di negeri ini.  Tidak hanya itu,setidaknya kasus Artatalita masih tajam diingatan kita semua .  Lapas  yang dijadikan tempat dikurung Artatalita ternyata penuh dengan kenikmatan dunia. Layaknya rumah ideal lengkap dengan segala alat kebutuhan sehari-hari. Selanjutnya kita juga patut curiga keberadaaan besan Presiden SBY yaitu Aulia Pohan karena dikhawatirkan Aulia Pohan tidak menjalani hukuman menurut Undang-Undang. Sikap mereka dirasakan mencederai hukum sebagai norma yang harus di patuhi.

Kita sadari bahwa mafia peradilan bukanlah suatu hal yang berbentuk pengorganisasian. Namun secara jelas  mafia peradilan itu ada. Memberantas mafia peradilan juga butuh dukungan seluruh elemen masyarakat. Karena mafia terorganisir oleh god father yang menyediakan uang. Sikap saling melindungi mafia peradilan menyebabkan mudah menularnya kepada aparat penegak hukum mulai dari Hakim, Jaksa, Polisi dan Advokat. Pantas jika Denny Indrayana (2000) mengatakan bahwa bobroknya sistem peradilan mulai dari pemeriksaan di kepolisian, jaksa, pengadilan sampai ke Lembaga Pemasyarakatan adalah akibat dari bermainnya justice money (uang keadilan) yang sama merusaknya dengan money politics dalam kancah perpolitikan nasional.

Untuk penegakan hukum sudah sepatutnya Satjipto Raharjo (2010) mengatakan bahwa manusia, khusunya Penegak hukum selaku aktor penting dan utama di belakang kehidupan hukum tidak hanya dituntut mampu menciptakan dan menjalankan hukum (making the law), tetapi juga keberanian mematahkan dan merobohkannyan (breaking the law) manakala hukum tidak sanggup menghadirkan roh dan subtansi keberadaaanya yakni menciptakan keharmonisan, kedamaian, ketertiban, dan kesejahteraan masyarakat.

Setidaknya ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk penegakan hukum pada kondisi saat ini yaitu memunculkan kultur profesionalisme para penegak hukum. Profesionalisme penegak hukum muncul ketika masih dalam ranah mahasiswa, karena mereka menganggap bahwa hukum adalah sebuah keteraturan dan tidak bisa dilihat dari sebuah pasal saja. Charles Sampford (1989) mengatakan kepastian hukum bukan suatu hal yang nyata, melainkan suatu keinginan untuk melihat hukum sebagai institut yang penuh dengan kepastian. Profesionalitas yang dibutuhkan adalah tidak ada kompromi-kompromi politik dalam penegakan hukum baik di Pengadilan maupun diluar peradilan. Jika hukum sudah di campur adukan dengan politik maka tidak akan ada supremasi hukum yang didambakan Konstitusi kita.

Selanjutnya peran serta Pimpinan Negara yaitu Presiden Susilo Bambang Yudhonyono dalam menegakkan hukum sangat dibutuhkan. Mafia-mafia hukum sudah jelas musuh negara bukanlah sahabat negara. Maka sepatutnya kepala Negara melakukan perlawanan kepada musuh negara tersebut jika prajuritnya yaitu aparat penegak hukum tidak mampu menanggulangi. Sehingga tidak ada warna inkonsistensi dalam penegakan hukum di Indonesia.

Dan terakhir yang tidak patut dilupakan adalah peran serta masyarakat sebagai masyarakat yang patuh kepada hukum. Terutama Gerakan Masyarakat berupa LSM, Organisasi Mahasiswa, dan Perguruan Tinggi diharapkan mau berkontribusi untuk memberantas mafia peradilan. “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh!” Demikian satu adagium yang sudah sejak lama membekas di hati bangsa ini yang kita gunakan untuk memerangi mafia peradilan maupun mafia hukum.

Dalam kaitan itu tepatlah kiranya apabila dikutip pernyataan bijak Sayidina Ali bin Abi Tholib yang mengatakan, “Kebenaran yang tidak diorganisir dengan baik akan dikalahkan oleh kejahatan yang diorganisir dengan baik”.

Viva Justicia !!!


28. March 2011 by dewa09
Categories: Uncategorized | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *